Hari Anak Jakarta Membaca 2016
photo by : Arief Maulana - desain & model by : Glory Lamria
Mendengar kata perpustakaan, maka yang terlintas di benak kita adalah suatu ruangan yang berisi banyak buku - buku bacaan. Pandangan itu tentu tidak salah, sebab menurut etimologis bahasanya Perpustakaanadalah suatu ruangan, bagian dari gedung / bangunan atau gedung tersendiri
yang berisi buku - buku koleksi, yang diatur dan disusun demikian rupa, sehingga
mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh
pembaca (Sutarno NS, 2006:11)
Ditilik dari sejarah, Sejarah
perpustakaan di Indonesia telah mengalami perkembangan yang turut berjalan seiring
dengan sejarah Indonesia. Secara garis besar perkembangan perpustakaan di Indonesia dibagi ke dalam 5 periode, Dimulai dari masa kerajaan-kerajaan lokal pada tahun 400-an yakni saat lingga batu dengan tulisan Pallawa ditemukan pada periode Kerajaan Kutai. Selanjutnya di masa penjajahan Belanda dimana perpustakaan mulai didirikan mula-mula untuk tujuan menunjang program penyebaran agama dan memperkuat penjajahan mereka. Pada periode ini perpustakaan paling awal berdiri yakni perpustakaan gereja di Batavia (kini Jakarta) yang dibangun sejak 1624. Pada masa inilah perpustakaan mulai dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Kemudian masa ini digantikan dengan penjajahan Jepang. Pada masa penjajahan Jepang hampir tidak ada perkembangan perpustakaan yang berarti. Jepang hanya mengamankan beberapa gedung penting diantaranya Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen.Pemakaian buku berbahasa Belanda dilarang, namun mahasiswa masih dapat menggunakan buku teks dengan berbahasa lain dan koleksi buku bernafaskan Politik Jepang. Karena pengamanan yang kuat pada gedung Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen maka koleksi perpustakaan ini dapat dipertahankan, dan merupakan cikal bakal dari Perpustakaan Nasional. Tibalah pada masa awal kemerdekaan Indonesia, pada awalnya perpustakaan kurang mendapat perhatian. Hal ini dapat dimaklumi sebab Indonesia sedang gigihnya memperjuangkan kemerdekaan. Perkembangan pasca kemerdekaan baru dimulai dari tahun 1950an yang ditandai dengan berdirinya perpustakaan baru. Pada tanggal 25 Agustus 1950 berdiri perpustakaan Yayasan Bung Hatta dengan koleksi yang menitikberatkan kepada pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Hingga pada masa orde baru Setelah Pelita I berhasil meningkatkan pendapatan negara, maka pada Pelita II perpustakaan lebih mendapatkan perhatian, sehingga program-program dapat terlaksana. Yakni pembelian buku-buku, peningkatan pelayanan masyarakat, pembinaan perpustakaan-perpustakaan sekolah, proyek pengadaan buku-buku paket secara cuma-cuma. Pada awal Pelita III Dirjen Pendidikan Tinggi mengeluarkan surat keputusan tentang Pembentukan Satuan Tugas Pengembangan Perpustakaan Pergutuan Tinggi. Semenjak itu secara nasional, pengembangan perpustakaan di perguruan tinggi menjadi terarah. Pada pertengahan tahun 1980 telah berdiri 19 perpustakaan umum di tingkat kabupaten, 19 perpustakaan umum di tingkat wilayah, 305 perpustakaan desa, dan 16 perpustakaan keliling. Pada tahun 1978/1979 tim yang dipimpin oleh Prof. Selo Soemardjan telah berhasil merumuskan sistem perpustakaan nasional yang menjadi konsep dasar perpustakaan nasional saat ini. Pada akhir 1980 berdirilah perpustakaan nasional yang merupakan peleburan dari beberapa perpustakaan yang sudah ada.
Hingga saat ini perkembangan teknologi turut mempengaruhi perkembangan dari perpustakaan itu sendiri. Perkembangan
teknologi saat ini berhasil mengubah cara hidup masyarakat, dari yang
sebelumnya analog menjadi digital. Perubahan itu pun juga berdampak pada kebiasaan
orang saat sedang membaca. Gagasan yang muncul
pertama kali sebagai dasar konsep perpustakaan digital muncul pada bulan Juli
tahun 1945 oleh Vannevar Bush. Beliau merasa penyimpanan informasi manual lewat buku - buku fisik menghambat akses informasi terhadap penelitian yang akan dipublikasikan . Untuk itu,
Bush mengajukan ide untuk membuat catatan dan perpustakaan pribadi yang dapat diakses oleh banyak orang. Hingga pada akhirnya sekarang kita mengenal produk produk pendidikan seperti e-book, hingga yang teranyar pada masa sekarang adalah memasukkan kumpulan e-book ke satu storage yang kemudian kita kenal dengan sebutan digital library atau perpustakaan digital.
Kehadiran teknologi saat ini, berhasil mengubah pola hidup masyarakat. Termasuk dalam urusan membaca. Dewasa ini masyarakat cenderung melihat informasi melalui produk berita online seperti membaca lewat blog, forum - forum online, media sosial, maupun surel elektronik. Dalam membaca pun buku - buku fisik sudah mulai digantikan dengan e-book atau buku elektronik. Beragam e -book memudahkan orang untuk bisa membaca dimanapun dan kapanpun.
Berangkat dari hal tersebut Pemerintah DKI Jakarta dengan sigap melihat fenomena ini sebagai suatu hal yang harus disikapi bersama guna berjalan berirama bersama dengan teknologi. Pemerintah DKI Jakarta menawarkan suatu aplikasi bernama iJakarta, yang disebut sebagai Jakarta Digital Library.
iJakarta adalah aplikasi perpustakaan digital yang menyediakan beragam e-book secara gratis. Tak sekadar membaca,
aplikasi ini juga memungkinkan penggunanya bersosialisasi bersama dengan pengguna lainnya. Dengan tagline"Baca buku, berbagi
koleksi bacaan dan bersosialisasi secara bersamaan. Di mana pun, kapan pun
dengan nyaman bersama setiap orang," iJakarta hadir sebagai wadah dari pemerintah DKI Jakarta untuk meningkatkan kembali semangat dan budaya literasi di dalam masyarakat.
Pengguna yang ingin menikmati iJakarta dapat dengan mudah mengunduhnya di berbagai platform baik iOS, Android, maupun Personal Komputer. Setelah mengunduh pengguna dapat menggunakan aplikasi ini hanya dengan mendaftar melalui akun Facebook ataupun e-mail. Setelah itu pengguna dapat langsung menikmati fitur fitur yang tersedia didalamnya.
Ketika mencoba aplikasi ini, Dihalaman muka kita akan diperlihatkan pada fitur Genre Buku. Di sini, kita bisa memilh buku yang ingin kita baca. Pada tab kedua terdapat fitur unggulan aplikasi ini yakni ePustaka. Fitur ini memungkinkan pengguna mengikuti beberapa penerbit atau instansi yang sudah berkerja sama untuk mencari berbagai judul buku. Pada tab ke tiga terdapat fitur Home dimana pengguna dapat melihat aktifitas pengguna lainnya, memberi komentar, tombol likes, dan memfollow satu sama lain. Pada halaman selanjutnya terdapat fitur Rak Buku, pada fitur ini pengguna dapat melihat daftar buku yang dipinjam, dan informasi didalamnya. Pada fitur ini juga kita dapat membaca buku yang sudah dipinjam. dan yang terakhir fitur Notifikasi dimana kita bisa melihat aktivitas, kotak masuk, maupun konfirmasi.
Di aplikasi ini juga disediakan tools pencariaan, dimana didalamnya kita bisa mencari buku berdasarkan judul, berdasarkan instansi penyedia, bahkan bisa mencari username pengguna iJakarta lainnya.
Setelah mengobservasi fitur-fitur di dalam aplikasi iJakarta, saya mencoba meminjam satu buku. Pilihan saya jatuh pada buku karya Tere Liye berjudul Bulan. Namun, sayangnya ketika saya ingin meminjam, stok buku yang disediakan oleh semua instansi dalam e-Pustaka dalam keadaan habis. Sehingga akhirnya saya tidak jadi meminjam buku tersebut.
Pilihan saya akhirnya jatuh pada koleksi buku Ilana Tan berjudul Winter in Tokyo. Buku ini tinggal tersedia 1 stok lagi. Dengan segera saya meminjamnya dan buku tersebut langsung masuk ke daftar pinjaman buku saya.
Selanjutnya saya mulai membaca buku di dalam aplikasi ini. fitur e-reader di iJakarta dilengkapi dengan tools yang memudahkan pengguna membaca langsung di aplikasi seperti informasi TOC (Table of Content), Change Theme, Bookmark, dan Search, Change Font Style, Change Font Type, Line Spasing. Keunggulan lainnya yang didapat di iJakarta ternyata, setelah buku selesai didonwload, pengguna dapat membaca buku bahkan dalam keadaan offline. Hal ini tentu membuat pengguna dapat dengan santai membaca tanpa perlu kuota akan habis tersedot.
Secara keseluruhan aplikasi iJakarta yang ditawarkan oleh Pemda DKI Jakarta adalah aplikasi yang amat bermanfaat bagi masyarakat. Kekurangan dari aplikasi ini terletak pada penyediaan buku yang seringkali kosong. Kedepannya, pertumbuhan pengguna akan semakin besar, sehingga penambahan kuantitas buku menjadi hal yang patut diprioritaskan oleh Pemda DKI Jakarta.
Pada akhirnya, Pemerintah DKI Jakarta pada tahap ini telah berhasil membuat program yang menyediakan sarana untuk membaca.bagi penduduknya. Yang menjadi tantangan saat ini adalah apakah masyarakat kita mau meningkatkan semangat dan budaya membaca yang menurut survei masih jauh dari kultur budaya membaca yang diharapkan. Padahal, buku kita sebut sebagai jendela ilmu pengetahuan. Dari buku kita dapat melihat dunia, mengarungi tujuh benua dunia, menyelami berkilo-kilometer kedalaman laut yang tak tersentuh, membalik beribu-ribu tahun yang tak pernah kita datangi dan mengangkasa jauh dari apapun yang pernah kita raih. Buku mengekalkan penulis
hingga beribu tahun. Pada bukulah kita mampu melihat masa lalu. Melihat sejarah
peradaban dan menjadi lebih bijak di masa depan. Budaya literasi menjadi satu-satunya jalan untuk mampu menjelajahi ruang dan waktu, dan yang terpenting untuk membangun bumi pertiwi kita, Indonesia.
Jakarta, 28 Juli 2016
Glory Lamria
Universitas Indonesia
#tags :
Walikota Jakarta Timur Ingin Perpustakaan Online Dikembangkan